Yang kukira kelas XII bakal nyaman (read: tanpa contekan)
emalah harapan pupus. Contekan kembali dilakukan. Tapi ya nggak sedahsyat waktu
kelas XI, tapi tetep aja yang namanya contekan itu... sesuatu. Ya kau bisa
taulah bagaimana rasanya jika kau sudah belajar tapi yang lain dengan mudahnya
mencontek? Jika kau sedang memeras otak mengenai cara menyelesaikan masalah di
hadapanmu, dengan seenaknya bercontekan-ria? Kalau kata Affan sih,”PIWE
PERASAANMU?”
Ibaratnya, apabila suatu hari mereka menemukan uang segepok
di jalan, 95% sepertinya mereka takkan mengembalikannya.
---
Kelas XII, memang sesuatu. Konflik yang diakibatkan oleh
diriku sendiri bermunculan. Banyak faktor, tekanan misalnya. Jujur, kelas XII
aku menjadi semakin sensitif. Emosi sering terangsang. Tekanan dan harapan
orang terdekat membebani pundakku.
---
Kelas XII, orangtuaku juga kerap kali berkomentar mengenai “perubahanku”.
Ini bukan mengenai perubahan positif tentunya. Aku yang acap kali tidur awal
padahal aku kelas XII. Tapi sungguh, aku jenuh. Aku harus bagaimana? Gravitasi
tempat tidur memang sangat besar.
---
Kau tahu? Selain kegiatan
menyontek, aku juga membenci orang yang kerap kali menanggapi suatu pernyataan
dengan “uprus”,“empret” ,“bohong” dan segala hal. Akhir-akhir ini aku juga
sering menanggapi dengan,”Jangan sok tau. Kamu bukan aku. Jangan sok tau.
Bohong apa nggak-nya aku kan aku yang ngerasain. Bukan kamu. Nggak usah sok
tau.” Kalau aku sudah seperti itu, menandakan aku sudah marah maksimal. Asli.
Aku juga kerap dituduh sebagai
orang yang pelit ilmu. Kupikir tadinya hal tersebut bisa ditolerir. Tapi lama
kelamaan aku juga merasa jengah luar biasa. Serasa ingin melemparkan traktor ke
hadapan mereka.
Begini, Bukannya aku pelit ilmu. Tapi
aku masih ragu. Apa kalian mau ikut salah?
Nek aku tau, aku memberitahumu.

pindah kelasku pit. aman sentausa. ora eneng tekanan batin gegara masalah kui maning. haha
ReplyDeleteNanti aku jadi butiran debu eg wkwk
Delete